Rahasia Bulan Purnama

Posted by Ahmad Ghozali


Pernah dengar cerita-cerita mitos tentang manusia yang berubah (lycantrophy) pada saat bulan purnama, seperti makhluk Werewolf di Amerika, Macan di India dan sebagian Asia, Beruang di Eropa, Macan Tutul dan Singa di Afrika, Jaguar di Amerika Latin dan Siluman Buaya di Indonesia?

Selama berabad-abad telah ada keyakinan luas bahwa bulan memberikan pengaruh yang kuat pada kesehatan manusia dan perilakunya. Bukti yang paling kuat ini ditemukan dalam kata "lunatic" yang artinya gila, sebuah istilah yang berasal dari "lunar" dan awalnya digunakan untuk menggambarkan suatu bentuk kegilaan yang dianggap disebabkan oleh fase bulan.

Para dokter spesialis asal Miami, Amerika menjelaskan penelitian mereka bahwa terdapat korelasi kuat antara siklus bulan lengkap (purnama) dan sikap emosional pada manusia. Mereka juga menganalisa dari grafik statistik rumah sakit dan kantor polisi bahwa setelah siklus bulan lengkap terjadi, tingkat kejahatan, bunuh diri, kecelakaan lalu lintas meningkat tajam. Orang yang menderita ketidakstabilan emosional dan gangguan mental, pasien dengan kepribadian ganda, dan orang tua lebih rentan terhadap cahaya bulan. Penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa persentase terbesar perceraian, pertengkaran, dan kekerasan di beberapa kota berada di tengah bulan yakni saat bulan purnama.

Peneliti Klinis Toxicology, Leonie Calver, asal Australia juga melakukan penelitian yang sama. “Temuan kami adalah sebuah premis bahwa individu dengan perilaku kekerasan dan gangguan akut lebih banyak terjadi pada saat bersamaan dengan berlangsungnya bulan purnama,” ujarnya.

Para peneliti di Leeds University, juga membuktikan bahwa terdapat lonjakan pasien di seluruh rumah sakit setelah bulan purnama. Keluhanannya adalah kegelisahan dan depresi.

Fenomena ini dapat dijelaskan secara ilmiah dan dapat diterima. Ia mengatakan bahwa air di lautan dipengaruhi oleh daya gravitasi bulan dalam proses pasang surut. Komposisi tubuh manusia 80%nya adalah air, dan dua organ tubuh yang paling penting memiliki komposisi diatas 80% yaitu otak (90%) dan darah (90-95%). Jadi, potensi pengaruh gravitasi bulan juga tidak dapat diindahkan. Sehingga suasana hati dan sikap emosional manusia pun terkena imbasnya.

Penelitian ilmiah terbaru yang dilakukan oleh Dr. Amir Saleh, Konsultan Kesehatan di Amerika serta dosen Universitas Chicago, berpendapat bahwa puasa dapat mengendalikan pengaruh grafitasi bulan tersebut.

Karena puasa dapat memurnikan darah serta regenerasi sel-sel tubuh. Di dalam dan luar sel terdapat cairan, yang mana jika kita berpuasa dapat menambah kualitas cairan tersebut, terutama saat 3 hari (13, 14, 15 penanggalan Hijriah) tengah bulan.

Jika fokus (berpuasa 3 hari berturut-turut), grafitasi bulan yang memengaruhi cairan dalam sel tubuh manusia justru membantu menyeimbangan ion tubuh, memberikan tambahan energy, serta meningkatkan kekebalan tubuh.

Ibnu Sina dalam bukunya “Al-Qanun fi al-Tibb” menjelaskan pula bahwa proses pengobatan semisal hijamah, paling baik dilakukan saat pertengahan bulan, yakni tanggal 13, 14, 15 kalender Qamariyah, bukan permulaan atau akhir bulan.

Secara umum Dr. Allan Cott, M.D, seorang ahli kesehatan asal Amerika, menyatakan bahwa puasa dapat menjadikan diri lebih baik secara mental dan fisik, membersihkan badan, menurunkan tekanan darah dan kadar lemak, mengendalikan nafsu seks, mengendorkan ketegangan jiwa, menajamkan fungsi inderawi, mampu mengendalikan emosi, serta memperlambat proses penuaan.

Telah menceritakan kepada kami (Rauh), telah menceritakan kepada kami (Hammam) dari Anas bin Sirin dari Abdul Malik bin Qatadah bin Milhan Al-Qaisy dari Ayahnya ia berkata; "Rasulullah SAW pernah memerintahkan kami berpuasa yaumul bidh, yaitu; tanggal tiga belas, empat belas dan lima belas, dan beliau bersabda: "ia seperti puasa selamanya." H.R. Imam Ahmad.

Saudi Arabia, 13 Syawwal 1431, 02.45

Cukup Bagiku Allah

Posted by Ahmad Ghozali



Keikhlasan, kata itulah yang akan kita temui diurutan pertama pada papan “Panca Jiwa”, yang banyak bertebaran di lingkungan Pondok Modern Gontor. Sebuah papan berbahasa Indonesia yang kebal hukum CLI (Central Language Improvement), karena bukan hanya diperuntukkan bagi santri, tapi juga bagi kyai, guru, wali santri dan tamu Pondok Modern. Mengapa harus nilai ”Keikhlasan” yang ditanamkan pertama kali, bukan nilai-nilai lain?

Kita diciptakan di muka bumi ini hanya untuk beribadah (Q.S. Adz-Dzariyat: 56), bersifat ”menghamba”, bukan manusia ”merdeka” yang dapat bertindak sesukanya dan luput dari Ilmu Pencipta. Semua makhluk harus ikut aturan dan ketentuan-Nya, dan pada saatnya nanti kita akan mempertanggungjawabkan seluruh amal perbuatan.

Para Ulama’ sepakat bahwa syarat diterimanya amal perbuatan manusia ada dua, yakni sesuai dengan tuntunan Syariat Islam dan Ikhlas. Oleh sebab itu, ikhlas menjadi syarat pokok disamping pengetahuan kita terhadap syariat Islam.

Secara umum, manusia mengartikan ”ikhlas” sebagai ”berbuat tanpa mengharap pamrih” dan ”menerima atas suatu kehilangan”. Bagaimana kita tidak mengharap pamrih, sedangkan kita sudah mengeluarkan seluruh kemampuan? Bagaimana kita tidak merasa kehilangan, sedangkan kita sudah berusaha menjaga? Bisa jadi pertanyaan-pertanyaan inilah yang berkecambuk dalam pikiran kita, sehingga terasa berat untuk melakukannya. Inikah makna ikhlas yang sesungguhnya? Tidak sesederhana ini.

Mengerjakan seluruh perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya adalah ciri-ciri orang bertaqwa, tapi semuanya itu tidak akan terwujud jika ia tidak memurnikan ketaatan kepada-Nya. Inilah arti ”ikhlas” yang sebenarnya, yakni memurnikan hati, jiwa, dan pikiran untuk taat kepada Sang Pencipta (Q.S. Az-Zumar: 2 dan Al-Bayyinah: 5).

Dalam ibadah Qurban misalnya, Allah tidak akan menghitung berapa jumlah hewan yang dikurbankan, tapi kemurnian hatinya dalam mengorbankan hewan tersebut yang dinilai (Q.S. Al-Hajj: 37). Begitu pula seluruh ibadah lainnya.

Untuk itulah dalam pandangan Allah, manusia mulia bukanlah yang paling kaya, paling pintar, paling tampan atau cantik, melainkan yang paling bertaqwa (Q.S. Al-Hujurat: 13). Karena seluruh ketentuan baik ataupun buruk telah ditetapkan dalam kitab (Lauhul Mahfudz) sebelum mereka diciptakan (Q.S. Al-Hadiid: 22), sehingga tidak ada alasan bagi mereka untuk merasa berputus asa, gembira dan menyombongkan diri (Q.S. Al-Hadiid: 23).

Hidup akan terasa begitu indah jika seseorang berhasil memurnikan hati, jiwa dan pikirannya. Seorang guru akan benar-benar mencerdaskan anak didiknya, bukan memberikan contekan disaat ujian karena merasa dibayar. Seorang hakim akan mengetuk palu kebenaran, bukan melindungi yang bersalah karena ia kerabatnya. Seorang polisi lalu lintas melalukan operasi pemeriksaan surat-surat kendaraan didasarkan minimalisasi kendaraan curian, bukan sebagai objek mencari tambahan uang saku. Seorang pengusaha akan membuka banyak lapangan pekerjaan, bukan menumpuk kekayaan. Seorang wakil rakyat akan memberikan tender kepada perusahaan yang layak dan menolak suap, bukan kepada perusahaan yang lebih banyak memberikan suap. Dan seseorang akan merasa senang menolong, bukan karena mengharap imbalan ataupun merasa berhutang budi.

Cara terbaik untuk dapat bersikap ikhlas adalah menyandarkan seluruh hidup ini hanya pada Allah semata (Q.S. At-Taubah: 129). Jika, setiap detik dalam kehidupan ini kita sandarkan pada-Nya, kita akan temukan hikmah dibalik seluruh ketentuan-Nya (lihat kisah Nabi Musa dan Nabi Khidir dalam Q.S. Al-Kahfi: 65-82).

Manusia tidak akan sanggup menahan luapan air, deburan ombak, hembusan angin, runtuhan bangunan, cuaca ekstrim, dan kematian, karena tinta pena telah mengering ketika seluruh peristiwa tersebut dihadapkan. Tidak ada alasan bagi bala tentara kebencian, kesedihan, kegelisahan, penyesalan dan kebinasaan untuk mengusik ketenangan jiwa. Penyakit kronis pun akan terasa ringan, musuh berbahaya akan terasa kecil, peristiwa mengerikan akan terasa biasa saja. Syaraf-syaraf tidak akan tegang, kegundahan jiwa akan reda, dan kecemasan di dada pun akan sirna, jika manusia menyandarkan diri hanya pada-Nya.

Nabi Ibrahim berkata: ”Tuhanku, Yang telah menciptakan aku, maka Dialah Yang menunjuki aku, dan Tuhanku, Yang memberi makan dan minum kepadaku, dan apabila aku sakit, Dialah Yang menyembuhkan aku, dan Yang akan mematikan aku, kemudian akan menghidupkan aku (kembali), dan Yang amat kuinginkan akan mengampuni kesalahanku pada hari kiamat." (Q.S. Asy-Syua’raa: 78-82). Teladan lainnya diberikan oleh Nabi Nuh (Q.S. Yunus: 71-72), Nabi Syu’ib (Q.S. Hud: 88), orang-orang beriman (Q.S. Al-Anfaal: 2, Huud: 123, Ar-Ra’du: 30, Ibrahim: 11-12, Al-Mulk: 29, Al-Ahzaab: 3).

Dengan menyandarkan hidup hanya pada-Nya, bukan berarti kita malas dan tidak mau berusaha, tapi dengan seizin Allah-lah kita dapat memberikan yang terbaik dan memperoleh hasil memuaskan. Do’a nabi Sulaiman patut dicontoh: "...Wahai Tuhanku, berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugrahkan kepadaku dan kepada orang tuaku, supaya aku dapat menyumbangkan karya yang Engkau restui serta masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang salih."(Q.S. An-Naml:19).

"Cukuplah Allah bagiku! Kepada Dialah orang yang bertawakal menyandarkan harapan dirinya!" (Q.S. Az-Zumar: 38)

Penuhi hati ini dengan satu rindu
Rindu untuk mendapatkan cintaMu
Penuhi jiwa ini dengan satu cinta
Cinta untuk mendapatkan rahmatMu

Cukup bagiku Allah, segalanya untukMu
Di hatiku ini penuh terisi segala tentang Allah
Kepada Nabi Muhammad tercurah shalawat Allah
(By Opick feat Gito Rollies)

Saudi Arabia, 9 Syawwal 1431 H, 05.58

Berjaya di Luar Angkasa

Posted by Ahmad Ghozali


Dunia Islam di zaman kekhalifahan sempat menjelma sebagai pusat studi astronomi dan astrologi. Studi astronomi dan astrologi mulai berkembang pada era kepemimpinan Khalifah Al-Mansyur sebagai penguasa ketiga Kekhalifahan Abbasiyah di abad ke-8 M. Studi astronomi dan astrologi di dunia Islam kian menggeliat sejak ditemukannya astrolabe oleh Al-Fazari.

Menurut sejarawan sains, Donald Routledge, kedua ilmu yang telah menguak rahasia langit itu mencapai puncak kejayaannya dalam peradaban Islam dari tahun 1025 M hingga 1450 M. Pada masa itu, di berbagai wilayah kekuasaan Islam telah lahir sederet astronom dan astrolog Muslim serta sejumlah observatorium yang besar dan megah.

Tak dapat dimungkiri bahwa sederet astronom dan astrolog Muslim terkemuka, seperti Nasiruddin at-Tusi, Ulugh Beg, Al-Batanni, Ibnu Al-Haitham, Ibnu Al-Syatir, Abdur Rahman as-Sufi, Al-Biruni, Ibnu Yunus, Al-Farghani, Al-Zarqali, Jabir Ibnu Aflah, Abu Ma’shar, dan lainnya, telah memberi sumbangan penting bagi pengembangan astronomi dan astrologi.

Bukti kejayaan yang diraih peradaban Islam dalam astronomi dan astrologi dapat dibuktikan melalui penamaan bintang dan sederet kawah bulan dengan nama-nama yang berasal dari bahasa Arab. Muslim Heritage Foundation mencatat ratusan nama bintang yang berasal dari peradaban Islam. Para astronom Muslim pada awalnya mengenal nama-nama bintang dari Almagest karya Ptolemeus–astronom Yunani yang hidup pada abad ke-2 M.

Setelah menguasai pengetahuan serta teknologi dalam bidang astronomi dan astrologi, para ilmuwan Muslim pun mulai memberi nama bintang-bintang yang berhasil mereka temukan. Sejarawan Jerman yang juga ahli dalam penamaan bintang dalam astronomi Islam, Paul Kunitzsch, mengungkapkan, ada dua tradisi penamaan bintang yang diwariskan oleh peradaban Islam.

Pertama penamaan bintang melalui dongeng. Paul menyebut penamaan bintang secara tradisional ini sebagai indigenous-Arabic. Yang kedua, menurut Paul, penamaan bintang secara ilmiah (scientific-Arabic). Sayangnya, penamaan bintang yang dilakukan para ilmuwan Muslim telah dibelokkan oleh peradaban Barat.

Hal itu dilakukan saat buku-buku teks bahasa Arab diterjemahkan ke dalam bahasa Latin mulai abad ke-12 M. Buku-buku teks bahasa Arab yang ditulis para astronom dan astrolog Muslim dengan sengaja dirusak sehingga maknanya pun berubah. Selain itu, perusakan alih bahasa itu juga membuat nama-nama bintang yang ditemukan peradaban Islam kehilangan arti.

Tak cuma itu, nama bintang juga secara sengaja dipindahkan dari satu ke yang lain. Sehingga, posisi bintang yang telah ditetapkan oleh para astronom dan astrolog Muslim itu berada dalam peta bintang yang berbeda. Untungnya, sebagian besar nama bintang yang diadopsi masyarakat Barat sejak bergulirnya Renaisans masih dalam bahasa Arab yang asli. Salah seorang astronom Muslim yang sangat berpengaruh dalam penamaan bintang adalah Abu al-Husain `Abd Al-Rahma-n Al-Sufi (903 M-986 M). Orang Barat mengenalnya dengan panggilan Azophi. Al-Sufi secara sistematis berhasil merevisi katalog bintang yang dibuat Ptolemeus. Ia mengubah Almagest yang populer itu dengan Kitab Suwar al-Kawakib (Kitab Bintang-Bintang Tetap).

Kitab yang dirampungkannya pada 964 M itu memang berbasis pada warisan astronomi Yunani. Meski begitu, nama-nama bintang yang tercatat dalam kitabnya itu berasal dari penemuannya sendiri dan diberi nama dalam bahasa Arab. Salinan kitab karya Al-Sufi itu sempat ditulis ulang olah putranya sekitar tahun 1010 M. Kini, kitab itu tersimpan di Perpustakaan Bodleian, Oxford.

Menurut Paul, tradisi masyarakat lokal di negeri Muslim yang tersebar di Semenanjung Arab dan Timur Tengah memiliki nama tersendiri untuk beragam bintang yang terang, salah satunya adalah Aldebaran. Paul menambahkan, kerap kali masyarakat Muslim memperlakukan bintang tunggal seperti orang atau binatang. Bintang yang dikenal sebagai Alpha dan Beta Ophiuchi, tutur dia, dianggapnya sebagai anjing gembala.
Paul menemukan fakta adanya penamaan bintang dalam bahasa Arab yang terdapat dalam buku Almagest karya Ptolemeus. “Contohnya nama bintang Fomalhaut berasal dari bahasa Arab yang berarti ‘mulut ikan dari selatan’,” ungkap Paul. Dalam kitab yang ditulisnya, astronom Muslim, Al-Sufi, telah mencatat hasil observasinya tentang Galaxi Andromeda. Ia menyebutnya sebagai ‘awan kecil’.

Al-Sufi pun tercatat sudah berhasil melakukan observasi dan menjelaskan bintang-bintang, posisinya, jarak, dan warna bintang-bintang itu. Ia juga mampu membuat peta bintang. Kitabnya yang paling fenomenal, yakni Kitab Suwar al-Kawakib itu diterjemahkan ke dalam bahasa Latin mulai abad ke-12, baik penjelasan teksnya maupun gambarnya.

Dari kitab inilah, masyarakat Barat salah satunya mengenal nama-nama bintang. Nama-nama bintang di luar angkasa yang ditemukan para ilmuwan Islam itu merupakan salah satu jejak kejayaan Islam.

Karya Emas Ummat Islam

Posted by Ahmad Ghozali


Perkembangan sains Islam dapat dibagi ke dalam tiga tahap. Tahap pertama adalah pewarisan dan penerjemahan. Pada masa ini dilakukan pengumpulan berkas-berkas penulisan Yunani untuk kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Arab. Institusi terkenal yang mengoleksi dan menerjemahkan tersebut salah satunya adalah Baitul Hikmah yang dibangun pemerintahan Khalifah Al-Ma’mun dari Dinasti Abbasiyah. Tahap kedua adalah pengklasifikasian cabang-cabang ilmu kemudian merumuskan metoda ilmiah dalam mempelajari dan membuktikannya. Tahap ketiga adalah pengembangan dan penemuan ilmu-ilmu pengetahuan baru.
Berikut penjelasan singkat mengenai beberapa cabang sains yang berkembang beserta tokoh-tokoh yang memeloporinya:

A. Kosmologi
Kosmologi adalah ilmu tentang sejarah, struktur, dan cara kerja alam semesta secara keseluruhan. Ilmu ini telah berkembang selama ribuan tahun dalam beberapa bentuk: mitologi dan religius, mistis dan filosofis, dan astronomis.
Ibn al-Shatir adalah seorang astronom muslim ternama yang bersama timnya menerjemahkan model kosmik Ptolemeus (pada naskah Almagest atau Al-Majisti) ke dalam konsep yang dapat diterapkan supaya lebih cocok dengan apa yang terlihat di langit.

B. Matematika
Sejak awal peradaban manusia, matematika sudah menjadi elemen penting dalam menunjang kehidupan. Penggunaan matematika sebagai alat terbukti eksis pada masa Mesir, Mesopotamia, India, dan Cina kuno. Ahli matematika Islam mengubah sifat bilangan (konsep angka desimal dan simbol bilangan nol, penambahan angka irasional serta natural dan pecahan), mengefisienkan beberapa bidang matematika, dan mengembangkan cabang-cabang baru matematika.
Di antara ahli matematika Islam yang terkenal adalah Banu Musa bersaudara yang meneliti angka-angka geometri berhubungan. Ibn al-Haytham mempelajari isometrik. Tsabit ibn Qurra, Nasiruddin al-Tusi, dan Umar Khayyam mengkaji postulat Euclid (yang buku aslinya berjudul Elements). Tidak lupa juga Al-Khawarizmi yang mengenalkan konsep aljabar dan algoritma. Trigonometri (terutama kajian segitiga) pun pada dasarnya adalah ciptaan matematikawan Islam. Belum lagi Abu Rayhan al-Biruni yang menerjemahkan karya Euclid ke dalam bahasa Sansekerta dan menghitung keliling serta jari-jari bumi secara presisi.

C. Astronomi
Pada masa itu, astronomi biasanya dikaitkan dengan matematika. Upaya yang dilakukan terdiri dari penelitian gerakan benda-benda langit dan mencatat apa yang ditemukan secara matematis. Pengetahuan ini diturunkan dari masa Yunani, Mesir, Babilonia, dan India kuno.
Putra Hunain ibn Ishaq –penerjemah kenamaan abad ke-9– membuat terjemahan Almagest (berisi tentang kinematika langit) karya Ptolemeus. Konsep Aristoteles tentang sfera padat yang diperkenalkan pada peradaban Islam melalui karya-karya Ibnu al-Haytham tetap menjadi model fundamental selama berabad-abad. Tsabit ibn Qurra dan Ibn Yunus, dikenal sebagai pengelola observatorium (lengkap dengan instrumen-instrumen astronomi hasil ciptaan yang luar biasa semisal astrolabes, bola langit, kuadran, dan jam matahari) yang didirikan di berbagai tempat. Al-Biruni (ditambah peran Al-Khawarizmi) menghasilkan data pengamatan yang membentuk dasar-dasar buku pegangan untuk jadwal astronomi penting yang dikenal sebagai zij. Al-Tusi dengan konsepnya yang terkenal, Tusi Couple, mengajukan model hipotesis tentang gerakan episiklus. Model tersebut kemudian diterapkan oleh Ibn al-Shatir dengan konsep gerakan planeter yang belakangan ternyata menunjukkan persamaan dengan skema Copernicus. Abdurrahman Al-Sufi dalam bukunya Kitab Suwar al-Kawakib al-Thabita (Risalah tentang Konstelasi Bintang-bintang Tetap) menguraikan tentang 48 konstelasi Ptolemeus.

D. Geografi
Meluasnya dunia Islam membutuhkan panduan di bidang geografi. Menghadapi kebutuhan yang berkembang pada perjalanan dan pedagangan serta urusan pemerintahan, ahli geografi bekerja keras untuk memperbaiki, mengembangkan, dan mengisi peta dunia yang diperoleh dari sumber-sumber Babilonia, Persia, dan Yunani serta dari naskah Yahudi, Kristen dan Cina. Pandangan kartografi Islam terhadap daerahnya menyerupai pandangan kartografi modern.
Abu Ishaq al-Istakhri (dengan karyanya: Al-Masalik wa Al-Mamalik –Jalur Perjalanan Kerajaan–) dan Ibn Hawqal membagi daerah Islam menjadi 12 wilayah dan memisahkan daerah non-Islam dalam kategori yang berbeda serta menulis atlas. Al-Mas’udi, dalam karyanya Muruj al-Dhahab (Padang Rumput Emas dan Tambang Permata), menguraikan tempat-tempat yang ia kunjungi dan berisi potret Eropa. Ibn Batuta, penjelajah abad ke-14 asal Maroko, menghabiskan hidupnya dengan berkelana dari Afrika Utara ke Cina dan Asia Tenggara lengkap dengan laporannya. Ibnu Khaldun memberikan penjelasan tentang daerah dan orang-orang di dalam batas wilayah Islam. Al-Idrisi membuat peta dunia berbentuk relief dari perak kemudian membuat detailnya pada 71 peta terpisah dan menyertainya dengan buku Kitab al-Rujari. Piri Re’is, seorang kapten laut masa Turki Utsmani, menghasilkan atlas mediterania serta bahkan peta Afrika Barat dan Amerika.

E. Kedokteran
Pada bidang kesehatan, Islam mewarisi dan mempelajari keberhasilan Yunani, Romawi klasik, Syria, Persia, dan India. Karya utama yang diterjemahkan dan menjadi basis adalah De Materia Medica yang disusun Dioscorides. Perpustakaan, pusat-pusat penerjemahan, dan rumah sakit sebagai sebuah institusi telah dikembangkan dengan cara revolusioner yang dapat membentuk jalan bagi sains kesehatan.
Al-Ruhawi memberikan karya berjudul Adab al-Tabib (Kode Etik Dokter) yang merupakan salah satu naskah berbahasa Arab pertama yang membicarakan masalah etika medis. Al-Razi (dikenal di Barat dengan sebutan Rhazes) dengan karyanya Tentang Cacar dan Campak yang diterjemahkan ke dalam bahasa-bahasa Barat hingga cetakan ke-40. Ia juga menulis 23 jilid Al-Hawi (Kitab yang Lengkap) yang merupakan salah satu naskah pengobatan paling lengkap sebelum abad ke-19. Ibn Sina (dikenal di Barat dengan sebutan Avicenna) dengan karyanya yang fenomenal Al-Qanun berupa ensiklopedi topik-topik medis serta senyawa, obat, dan alat pengukuran. Karya Al-Razi dan Ibn Sina tersebut digunakan sebagai rujukan dasar di sekolah-sekolah medis Eropa hingga menjelang awal masa modern. Ibn al-Khatib melakukan penelitian tentang penularan dalam epidemi. Ibn al-Nafis memberikan teori baru tentang sirkulasi darah sekunder antara jantung dan paru-paru. Risalah Hunain ibn Ishaq tentang mata beserta diagram-diagram anatomi yang akurat merupakan yang pertama dalam bidang ini. Mansur ibn Muhammad ibn al-Faqih Ilyas dengan naskahnya Tashrih al-Badan (Anatomi Tubuh) memberikan diagram komprehensif mengenai struktur, sistem sirkulasi, dan sistem syaraf tubuh. Abu al-Qasim al-Zahrawi (dikenal di Barat dengan sebutan Abulcasis) menelurkan karya berjudul Kitab al-Tasrif (Buku tentang Konsesi) yang berisi tiga risalah utama mengenai pembedahan yang digunakan sekolah-sekolah medis Eropa selama beberapa abad. Ibn Zuhr (Avenzoar), Ibn Rusyd, dan Maimonides adalah ahli-ahli kedokteran lainnya. Tidak ketinggalan pula Ibn al-Baytar dengan karyanya Al-Jami’ fi al-Tibb (Kumpulan Makanan dan Obat-obat yang Sederhana) yang merupakan teks Arab terbaik berkaitan dengan botani pengobatan (farmakologi) dan tetap digunakan sampai masa Renaissans.

F. Zoologi, Botani, Geologi
Para naturalis Islam memiliki minat terhadap sumber daya alam seperti batuan, tanah, flora, dan fauna. Hasilnya adalah inventaris yang melimpah tentang kuda, unta, hewan liar, anggur, pohon palem, sampai manusia.
Al-Biruni dan al-Khazini bahu membahu mengukur dan mengelompokkan batu-batu mulia dan semimulia. Ibn Sina juga meneliti geologi dan pengaruhi gempa bumi serta cuaca. Karya Zakaria ibn Muhammad ibn Mahmud Abu Yahya al-Qazwini pada abad ke-13 berjudul Aja’ib al-Makhluqat (Keajaiban Ciptaan), mengungkapkan botani dan zoologi. Ibn Akhi Hizam dan Abu Bakr al-Baytar meneliti tentang kuda. Analisa tentang hewan juga terdapat pada naskah Manafi’ al-Hayawan (Tentang Identifikasi dan Ciri-ciri Organ Hewan) oleh Abu Sa’id Ubaydallah ibn Bakutishu’.

G. Kimia
Alkimia menggabungkan spiritual, kerajinan, dan disiplin-disiplin ilmiah yang dapat ditelusuri kembali pada masa yang sangat lampau dan pada proses yang secara tradisional terdapat dalam penyiapan pengolahan logam dan obat. Ketika peradaban Islam sudah mapan, mereka menyerap aturan-aturan dasar alkimia yang dibuat oleh bangsa Alexandria dan terus membentuknya dalam konensi-konvensi intelektual mereka sendiri.
Jabir ibn Hayyan (dikenal di Barat dengan sebutan Geber) adalah legenda di bidang ini. Ia memfokuskan pada prinsip keseimangan dan hubungan numerik benda-benda. Ia tidak hanya mahaguru laboratorium tapi juga analis yang teliti. Ia mengetahui cara-cara menghasilkan besi, mewarnai kulit, kain tenun, dan baju anti air. Al-Razi juga memberikan sumbangan di bidang ini berupa proses kimia dasar seperti distilasi, kalsinasi, kristalisasi, penguapan, dan penyaringan. Perkakas lab yang ia gunakan diperbaiki dan dikembangkan sampai kotak, gelas kimia, labu kaca, corong, dan tungku pembakaran yang standar menyerupai yang terdapat pada masa modern. Ia juga membuat klasifikasi sistematis terhadap zat-zat mineral hasil alami maupun yang dibuat di lab.

H. Optik
Beberapa filosof, matematikawan, dan ahli kesehatan Islam berupaya keras mempelajari sifat fundamental serta cara bekerja pandangan dan cahaya. Mereka memiliki akses pada warisan pengetahuan Yunani yang berkaitan dengan cahaya dan penglihatan. Sumber-sumber itu antara lain karya Euclid dan karya astronom Mesir, Ptolemeus.
Al-Kindi, dengan kajiannya pada karya Euclid yang berjudul Optics, menghasilkan pemahaman baru tentang refleksi cahaya serta prinsip-prinsip persepsi visual yang menjadi cikal bakal hukum-hukum perspektif pada Renaissans. Riset paling spektakuler mengenai penglihatan dan cahaya dilakukan oleh Ibn al-Haytham (dikenal di Barat dengan sebutan Alhazen). Ia meneliti hampir seluruh aspek cahaya dan penglihatan manusia dalam karya komprehensifnya yang berjudul Kitab al-Manazir (Buku Tentang Optik). Karya tersebut kemudian mempengaruhi karya da Vinci, Kepler, Roger Bacon, dan ilmuwan-ilmuwan Eropa lain. Kamal al-Din al-Farisi mengomentari karya Ibn al-Haytham pada segmen efek kamera obscura. Ia (al-Farisi) juga untuk pertamakalinya memberikan penjelasan yang memuaskan tentang pelangi. Selain itu, al-Razi dan Ibn Sina juga mencantumkan tulisan-tulisan tentang optik.
Demikianlah karya emas Islam di bidang sains. Jika diperhatikan, ada tokoh-tokoh yang menjadi ahli di berbagai bidang. Itulah potret manusia Islam seutuhnya. Seorang yang telah mencapai derajat ulama berarti selain menguasai agama juga memiliki keahlian di bidang ilmu dunia (sains dan teknologi). Perlu dicatat bahwa nama tokoh-tokoh di atas tidak semuanya Muslim. Ada sebagian kecil diantaranya menganut agama Yahudi, Kristen, ataupun Sabean. Tapi semuanya hidup di bawah peradaban Islam dimana Khalifah (pemerintahan) sangat toleransi terhadap kemajemukan serta giat memajukan ilmu pengetahuan dengan bahasa Arab sebagai bahasa internasional dan bahasa ilmu. Sebuah sistem hidup yang tiada taranya.

Saudi Arabia, Rabu 30 Juni 2010, 21.50

Museum of Science and Technology In Islam from KAUST Video on Vimeo.

Al-Fihrist, Bibliografi Terbesar Sepanjang Masa

Posted by Ahmad Ghozali



''Salah satu dokumen terpenting dalam sejarah peradaban Islam,'' begitu guru besar pada Fakultas Sejarah dan Filsafat Pendidikan Universitas Colorado AS, Nakosteen menyebut Kitab Al-Fihrist -- sebuah karya bibliografi terbesar sepanjang masa yang ditulis Ibnu al-Nadim pada abad ke-10 M.

Dalam karyanya bertajuk History of Islamic Origins of Western Education A.D. 800-1350 : With an Introduction to Medieval Muslim Education, Nakosteen mengungkapkan, Al-Fihrist telah membantu para ilmuwan dan sejarawan tentang ilmu-ilmu Islam serta karya-karya klasik berbahasa Arab.

''Hingga akhir abad ke-19 M, pengetahuan tentang peradaban Islam diperoleh berdasarkan informasi yang terdapat dalamKitab Al-Fihrist,” tutur Nakosteen. Al-Fihrist merupakan salah satu adikarya Ibnu Nadim yang juga dikenal sebagai Index of Nadim.

Kitab Al-Fihrist merupakan suatu karya bibliografi Islam yang menggambarkan perkembangan Islam berdasarkan kajian terhadap literatur yang terbit di dunia Muslim. Al-Fihrist pertama kali dipublikasikan pada 938 M.

Bibliografi merupakan publikasi yang memuat daftar dokumen baik yang “diterbitkan” dalam bentuk buku maupun artikel majalah atau sumber kepustakaan lain yang berhubungan dengan bidang, ilmu pengetahuan atau hasil karya seseorang.

Melalui bibliografi, seseorang tidak menemukan dokumen pustakanya langsung, melainkan hanya memperoleh informasi tentang dokumen pustaka yang memuat informasi yang tersebut, seperti informasi mengenai di dalam bahan pustaka apa informasi yang dicari berada.

Data yang dicatat dalam bibliografi antara lain adalah nama pengarang, nama penyunting, judul pustaka, tempat terbit, penerbit, tahun terbit dan edisi, volume, nomor, halaman (untuk majalah), serta keterangan fisik dokumen pustaka tersebut, misalnya jumlah halaman, tinggi buku, ilustrasi dan sebagainya.

Kitab Al-Fihrist yang ditulis Ibnu al-Nadim tidak hanya menggambarkan apa yang pernah dicapai atau dipahami seseorang terhadap materi Islam, akan tetapi juga menggambarkan bagaimana umat Islam bersentuhan dengan dunia atau paham dan keyakinan lain yang tertuang di dalam suatu literatur sebagai karya orang Islam.

Al-Fihrist terdiri dari sepuluh bagian. Setiap bagian terdiri dari sub-sub bagian kecuali bagian pertama. Setiap bagian dari Kitab Al-Fihrist tersebut berisi uraian tentang bermacam-macam ilmu pengetahuan, baik ilmu-ilmu agama Islam seperti ilmu fikih maupun hadis.

Bibliografi tersebut juga menguraikan ilmu-ilmu non-agama seperti ilmu matematika, astronomi, pengobatan, bahasa, sastra, filsafat, sejarah maupun biografi. Dalam karyanya tersebut, Ibnu Nadim tidak lupa menguraikan kisah para ahli di bidang ilmu-ilmu tersebut.



Pada bagian pertama, Ibnu al-Nadim menguraikan berbagai macam bahasa baik bahasa dari bangsa-bangsa di tanah Arab maupun bangsa-bangsa non-Arab seperti Eropa. Pada bagian pertama kitab tersebut, dia juga mendeskripsikan keanekaragaman tulisan dari berbagai macam bangsa termasuk bentuk dan karakteristik dari tulisan tersebut.

Selain berisi uraian berbagai macam bahasa dan tulisan bangsa-bangsa di dunia, dia juga menuliskan tentang kitab suci dari masing-masing agama seperti; Islam, Yahudi, Nasrani, maupun kaum Sabian.

Bagian kedua Kitab Al-Fihrist berisi uraian ilmu tata bahasa dan filologi serta para ahli di bidangnya masing-masing. Sedangkan bagian ketiga berisi mengenai sejarah, biografi, dan silsilah. Bagian keempat berisi tentang puisi dan penyair pada masa sebelum lahirnya agama Islam, pada masa bani Umayah dan pada masa Bani Abbasiyah.

Pada bagian kelima mengulas filsafat dan para cendekiawan skolastik. Bagian keenam tentang hukum, ahli fikih dan ahli hadis. Bagian ketujuh tentang filsafat dan ilmu pengetahuan kuno. Bagian kedelapan tentang legenda, dongeng, sihir dan sulap. Bagian kesembilan tentang sekte dan kepercayaan. Sedangkan bagian terakhir atau bagian kesepuluh tentang ahli kimia.

Kitab Al-Fihrist telah memberikan sumbangan yang besar bagi dunia untuk memahami Islam melalui kajian terhadap karya-karya yang dicapai umat Islam di era keemasan. Melalui karya tersebut, Ibnu Nadim tidak saja telah mengenalkan karya-karya pencapaian umat Islam pada suatu masa tertentu, akan tetapi juga telah menunjukkan cara lain dalam memahami Islam.

Dengan demikian, Kitab Al-Fihrist merupakan suatu pendekatan di dalam studi Islam yang dituangkan melalui pendekatan bibliografis, yaitu menunjukkan karya-karya hasil umat Islam mengenai suatu subjek materi ajaran Islam. Dengan karya tersebut, Ibnu al-Nadim bahkan telah membuat pemetaan terhadap berbagai kajian Islam yang dilakukan oleh umat Islam.

Dalam menyajikan daftar literatur, Ibnu al-Nadim menyusun karyanya berdasarkan atas nama pengarangnya lalu diikuti dengan nama-nama kitab atau judul-judul karangannya. Selain itu, dalam menulis berbagai macam ilmu beserta ahli-ahlinya di dalam kitab tersebut, Ibnu al-Nadim hanya menuliskan pengetahuan dari para ahli yang dia kenal dan lihat sendiri dengan baik.

Kalaupun ia tidak mengenalnya, maka Ibnu al-Nadim menuliskan keberadaan ilmu maupun ahli dibidang ilmu tersebut berdasarkan pengetahuan dari temen-temannya yang terpercaya. Yang menarik dari Ibnu al-Nadim, dia sering mencantumkan ukuran buku maupun jumlah halaman dari bukunya di dalam buku-buku karyanya. Sehingga para pembeli bukunya bisa terhindar dari kecurangan para pembuat salinan buku. Kitab Al-Fihrist telah diterjemahkan pada 1970 ke dalam bahasa Inggris.
Ibnu al-Nadim telah memberi insipirasi dan mengenalkan kepada peradaban modern cara membuat sebuah bibliografi. Sumbangan al-Nadim telah diakui peradaban modern, terutama para ilmuwan dan sejarawan Barat. Bibliografinya telah membuka jalan bagi para sejarawan dan cendekiawan yang mencoba menelusuri jejak keemasan Islam di era keemasan.

Maka, pantaslah bila Kitab Al-Fihrist disebut sebagai salah satu dokumen terpenting dalam sejarah kebudayaan Islam.


Jejak Hidup Sang Bibliografer


Sejatinya, ia bernama lengkap Abu'l-Faraj Muhammad bin Ishaq al-Nadim. Ia merupakan bibliografer Muslim nomor wahid yang berasal dari Baghdad, Irak. Ayahnya al-Warraq juga seorang pelajar dan ahli bibliografi.

Ibnu al-Nadim juga dikenal sebagai penjual buku, seorang pembuat kaligrafi yang menyalin manuskrip untuk dijual kepada orang lain seperti ayahnya. Dia tinggal di Baghdad. Namun ada juga yang menceritakan kalau dia tinggal di Moshul.

Dia juga hidup di lingkungan Bani al-Jarrah yang mendapatkan banyak pengetahuan tentang berbagai macam ilmu pengetahuan seperti ilmu logika dan ilmu pengetahuan umum baik yang berasal dari Yunani, Persia, juga India.

Ibnu al-Nadim juga dikenal sebagai orang yang sangat antusias dan tertarik terhadap berbagai macam ilmu pengetahuan. Selain mendalami bibliografi, Ibnu al-Nadim juga mendalami ilmu sejarah yang menjadikannya sebagai sejarawan yang terkenal pada masanya.

Kecintaannya terhadap ilmu pengetahuan membuatnya tertarik untuk melakukan pertemuan-pertemuan dengan orang-orang yang juga memiliki ilmu pengetahuan yang luas. Hingga pada suatu masa, Ibnu Nadim pernah bertemu dengan seorang ahli filsafat Kristen yang bernama Ibnu al-Khammar.

Sebuah catatan sejarah pernah menuliskan Ibn al-khammar berkunjung ke rumahnya. Sejak saat itu, dia bersama Ibn al-khammar sering melakukan pertemuan untuk berdiskusi berbagai macam hal mengenai ilmu filsafat maupun ilmu pengetahuan umum seperti sejarah, sastra, dan bahasa.

Meskipun Ibnu Nadim dikenal sebagai seseorang yang memiliki toleransi yang besar terhadap penganut agama lain, dia tidak pernah lupa bahwa dirinya merupakan seorang Muslim. Namun, sejarah tidak memiliki banyak catatan tentang kehidupan Ibnu al-Nadim pada masa kecil dan remajanya, selain cerita karya besarnya Kitab Al-Fihrist yang sangat terkenal di kalangan para ilmuwan dan pelajar, baik di kalangan Timur maupun di Barat.

Meskipun Kitab Al-Fihrist telah bisa dibaca jutaan orang di seluruh penjuru dunia, namun kitab tersebut sudah tidak selengkap karya aslinya. Pasalnya pada 1258 tentara Mongol melakukan serangan besar-besaran ke Baghdad bahkan banyak perpustakaan yang menyimpan berbagai macam buku pengetahuan termasuk Kitab Al-Fihrist dimusnahkan.

Selain itu buku-buku yang terdapat di perpustakaan tersebut juga banyak yang dibuang ke sungai untuk menghapus peradaban Islam. Akibatnya banyak buku yang rusak dan hancur tanpa bisa diselamatkan.

Saudi Arabia, 23 Juni 2010, 21.23

Barat, Peradaban Penikmat

Posted by Ahmad Ghozali


Penemuan ilmu pengetahuan dan teknologi modern saat ini, sesungguhnya telah lama ditemukan kaum Muslim. Demikian ujar guru besar Columbia University.

Para ilmuwan Muslim sudah membuat banyak penemuan-penemuan dari usia yang ada, demikian ujar Prof. Dr. George Saliba, guru besar Universitas Arab dan Islam Universitas Columbia. Pernyataan Saliba ini disampaikan dalam sebuah seminar di Government College University (GCU), hari Senin kemarin. Saliba hadir dalam seminar bertajuk, The Problems of Historiography of Islamic Science, yang diselenggarakan di Fazl-e-Hussain Hall. Saliba memberi suatu kritik dari buku klasik tentang kenaikan ilmu pengetahuan Islam. Ia merinci permasalahan dalam banyak buku dan menjelaskan penulisan sejarah alternatif bahwa digambarkan jika perkembangan ilmiah Islam sebagai hasil interaksi sosial dan kondisi-kondisi politis di dalam kerajaan Islam.

Saliba mengatakan, filsafat Islam telah mendorong ilmu pengetahuan dan telah mendukung berbagai disiplin-disiplin ilmu. Termasuk tumbuh-tumbuhan, ilmu hewan, aljabar, trigonometri, ilmu fisika, ilmu kimia, ilmu perbintangan, ilmu fisika, ilmu kimia, ilmu faal dan matematika sebelum zaman industri.

Ia juga mengatakan, pecahan persepuluhan bukan suatu penemuan orang Barat dan bahwa itu ditemukan oleh seorang ilmuwan Muslim. Ia juga menambahkan, sistem biner, adalah juga ditemukan oleh seorang ilmuwan Muslim.

Dr. George Saliba, adalah Profesor Ilmu pengetahuan Islam-Arab. Selain itu ia juga duduk di Departemen dari Timur Tengah dan Bahasa-bahasa Asia, di Columbia University, New York, AS.

Sebelum Saliba, orientalis asal Skotlandia, William Montgomery Watt pernah secara jujur, bagaimana Barat sangat berhutang budi pada Islam, khususnya dalam pengembangan ilmu pengetahuan.

Montgomery yang pernah mendapatkan gelar “Emiritus Professor,” gelar penghormatan tertinggi bagi seorang ilmuwan, sangat tekun melakukan penelitiannya tentang Islam. Khususnya sejarah perkembembangan pengetahuan di dunia Islam. Montgomery secara jujur mengakui, perkembangan ilmu pengetahuan yang kini berkembang pesat di Barat dan Eropa, sesungguhnya sebagian besar telah banyak ditemukan kaum Muslim sebelumnya. Peradaban Barat hanya menikmati saja.

Saudi Arabia, 22 Juni 2010, 09.08

Teori Relativitas Al Kindi dan Einstein

Posted by Ahmad Ghozali



Dunia sains modern di awal abad ke-20 M dibuat takjub oleh penemuan seorang ilmuwan Yahudi Jerman bernama Albert Einstein. Fisikawan ini pada 1905 memublikasikan teori relativitas khusus (special relativity theory). Satu dasawarsa kemudian, Einstein yang didaulat majalah Time sebagai tokoh abad XX itu mencetuskan teori relativitas umum (general relativity theory).

Teori relativitas itu dirumuskannya sebagai E=mc2. Rumus teori relativitas yang begitu populer menyatakan bahwa kecepatan cahaya adalah konstan. Selain itu, teori relativitas khusus yang dilontarkan Einstein berkaitan dengan materi dan cahaya yang bergerak dengan kecepatan sangat tinggi.

Sedangkan, teori relativitas umum menyatakan, setiap benda bermassa menyebabkan ruang-waktu di sekitarnya melengkung (efek geodetic wrap). Melalui kedua teori relativitas itu, Einstein menjelaskan bahwa gelombang elektromagnetis tidak sesuai dengan teori gerakan Newton. Gelombang elektromagnetis dibuktikan bergerak pada kecepatan yang konstan, tanpa dipengaruhi gerakan sang pengamat.

Inti pemikiran kedua teori tersebut menyatakan, dua pengamat yang bergerak relatif akan mendapatkan waktu dan interval ruang yang berbeda untuk kejadian yang sama. Meski begitu, isi hukum fisik akan terlihat sama oleh keduanya. Dengan ditemukannya teori relativitas, manusia bisa menjelaskan sifat-sifat materi dan struktur alam semesta.

“Pertama kali saya mendapatkan ide untuk membangun teori relativitas, yaitu sekitar tahun lalu 1905. Saya tidak dapat mengatakan secara eksak dari mana ide semacam ini muncul. Namun, saya yakin, ide ini berasal dari masalah optik pada benda-benda yang bergerak,” ungkap Einstein saat menyampaikan kuliah umum di depan mahasiswa Kyoto Imperial Uni versity pada 4 Desember 1922.

Benarkah Einstein pencetus teori relativi tas pertama? Di Barat sendiri, ada yang meragukan teori relativitas itu pertama kali ditemukan Einstein. Sebab, ada yang berpendapat bahwa teori relativitas pertama kali diungkapkan oleh Galileo Galilei dalam karyanya bertajuk Dialogue Concerning the World’s Two Chief Systems pada 1632.
Teori relativitas merupakan revolusi dari ilmu matematika dan fisika. Sejatinya, 1.100 tahun sebelum Einstein mencetuskan teori relativitas, ilmuwan Muslim di abad ke-9 M telah meletakkan dasar-dasar teori relativitas, yaitu saintis dan filosof legendaris bernama Al-Kindi yang mencetuskan teori itu.

Tak mengejutkan jika ilmuwan besar sekaliber Al-Kindi telah mencetuskan teori itu pada abad ke-9 M. Apalagi, ilmuwan kelahiran Kufah tahun 801 M itu menguasai kitab suci Al quran. Sebab, tak di ragukan lagi bahwa ayat-ayat Alquran mengandung pengetahuan yang absolut dan selalu menjadi kunci tabir misteri yang meliputi alam semesta raya ini.

Aya-ayat Alquran yang begitu menakjubkan inilah yang mendorong para saintis Muslim di era keemasan mampu meletakkan dasar-dasar sains modern. Sayangnya, karya-karya serta pemikiran para saintis Muslim dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi telah ditutuptutupi.

Dalam Al-Falsafa al-Ula, ilmuwan bernama lengkap Yusuf Ibnu Ishaq Al- Kindi itu telah mengungkapkan dasardasar teori relativitas. Sayangnya, sangat sedikit umat Islam yang mengetahuinya. Sehingga, hasil pemikiran yang brilian dari era kekhalifahan Islam itu seperti tenggelam ditelan zaman.

Menurut Al-Kindi, fisik bumi dan seluruh fenomena fisik adalah relatif. Relativitas, kata dia, adalah esensi dari hukum eksistensi. “Waktu, ruang, gerakan, dan benda, semuanya relatif dan tak absolut,” cetus Al-Kindi. Namun, ilmuwan Barat, seperti Galileo, Descartes, dan Newton, menganggap semua fenomena itu sebagai sesuatu yang absolut. Hanya Einstein yang sepaham dengan Al-Kindi. “Waktu hanya eksis dengan gerakan; benda dengan gerakan; gerakan dengan benda,” papar Al-Kindi. Selanjutnya, Al-Kindi berkata, “… jika ada gerakan, di sana perlu benda; jika ada sebuah benda, di sana perlu gerakan.” Pernyataan Al- Kindi itu menegaskan bahwa seluruh fenomena fisik adalah relatif satu sama lain. Mereka tak independen dan tak juga absolut. Gagasan yang dilontarkan Al-Kindi itu sama dengan apa yang diungkapkan Einstein dalam teori relativitas umum. “Sebelum teori relativitas dicetuskan, fisika klasik selalu menganggap bahwa waktu adalah absolut,” papar Einstein dalam La Relativite. Menurut Einstein, pendapat yang dilontarkan oleh Galileo, Descartes, dan Newton itu tak sesuai dengan definisi waktu yang sebenarnya.

Menurut Al-Kindi, benda, waktu, gerakan, dan ruang tak hanya relatif terhadap satu sama lain, namun juga ke objek lainnya dan pengamat yang memantau mereka. Pendapat Al-Kindi itu sama dengan apa yang diungkapkan Einstein.

Dalam Al-Falsafa al-Ula, Al-Kindi mencontohkan, seseorang melihat sebuah objek yang ukurannya lebih kecil atau lebih besar menurut pergerakan vertikal antara bumi dan langit. Jika orang itu naik ke atas langit, dia melihat pohon-pohon lebih kecil. Jika dia bergerak ke bumi, dia melihat pohon-pohon itu jadi lebih besar. “Kita tak dapat mengatakan bahwa sesuatu itu kecil atau besar secara absolut. Tetapi, kita dapat mengatakan bahwa itu lebih kecil atau lebih besar dalam hubungan kepada objek yang lain,” tutur Al- Kindi. Kesimpulan yang sama diungkapkan Einsten sekitar 11 abad setelah Al- Kindi wafat.

Menurut Einstein, tak ada hukum yang absolut dalam pengertian hukum tak terikat pada pengamat. Sebuah hukum, papar dia, harus dibuktikan melalui pengukuran. Al-Kindi menyatakan, seluruh fenomena fisik, seperti manusia menjadi dirinya, adalah relatif dan terbatas.

Meski setiap manusia tak terbatas dalam jumlah dan keberlangsungan, mereka terbatas; waktu, gerakan, benda, dan ruang yang juga terbatas. Einstein lagi-lagi mengamini pernyataan Al-Kindi yang dilontarkannya pada abad ke-11 M. “Eksistensi dunia ini terbatas meskipun eksistensi tak terbatas,” papar Einstein.

Dengan teori itu, Al-Kindi tak hanya mencoba menjelaskan seluruh fenomena fisik. Namun, juga dia membuktikan eksistensi Tuhan. Karena, itu adalah konsekuensi logis dari teorinya. Di akhir hayatnya, Einsten pun mengakui eksistensi Tuhan. Teori relativitas yang diungkapkan kedua ilmuwan berbeda zaman itu pada dasarnya sama. Namun, penjelasan Einstein telah dibuktikan dengan sangat teliti.
Bahkan, teori relativitasnya digunakan untuk pengembangan energi, bom atom, dan senjata nuklir pemusnah massal. Sedangkan, Al-Kindi mengungkapkan teorinya untuk membuktikan eksistensi Tuhan dan keesaan-Nya. Sayangnya, pemikiran cemerlang sang saintis Muslim tentang teori relativitas itu itu tak banyak diketa hui. Sungguh sangat ironis, memang.

Si Jenius dari Abad IX

Al-Kindi atau Al-Kindus adalah ilmuwan jenius yang hidup di era kejayaan Islam Baghdad. Saat itu, panji-panji kejayaan Islam dikerek oleh Dinasti Abbasiyah. Tak kurang dari lima periode khalifah dilaluinya, yakni Al-Amin (809-813), Al-Ma’mun (813- 833), Al-Mu’tasim, Al-Wasiq (842-847), dan Mutawakil (847-861). Kepandaian dan kemampuannya dalam menguasai berbagai ilmu, termasuk kedokteran, membuatnya diangkat menjadi guru dan tabib kerajaan. Khalifah juga mempercayainya untuk berkiprah di Baitulhikmah yang kala itu gencar menerjemahkan buku-buku ilmu pengetahuan dari berbagai bahasa, seperti Yunani.

Ketika Khalifah Al-Ma’mun tutup usia dan digantikan putranya, Al-Mu’tasim, posisi Al-Kindi semakin diperhitungkan dan mendapatkan peran yang besar. Dia secara khusus diangkat menjadi guru bagi putranya. Al-Kindi mampu menghidupkan paham Muktazilah. Berkat peran Al-Kindi pula, paham yang mengutamakan rasionalitas itu ditetapkan sebagai paham resmi kerajaan.

Menurut Al-Nadhim, selama berkutat dan bergelut dengan ilmu pengetahuan di Baitulhikmah, Al-Kindi telah melahirkan 260 karya. Di antara sederet buah pikirnya itu telah dituangkan dalam risalah-risalah pendek yang tak lagi ditemukan. Karya-karya yang dihasilkannya menunjukan bahwa Al-Kindi adalah seorang yang berilmu pengetahuan yang luas dan dalam.

Ratusan karyanya itu dipilah ke berbagai bidang, seperti filsafat, logika, ilmu hitung, musik, astronomi, geometri, medis, astrologi, dialektika, psikologi, politik, dan meteorologi. Bukunya yang paling banyak adalah geometri sebanyak 32 judul. Filsafat dan kedokteran masing-masing mencapai 22 judul. Logika sebanyak sembilan judul dan fisika 12 judul.

Relativitas dalam Alquran

Alam semesta raya ini selalu diselimuti misteri. Kitab suci Alquran yang diturunkan kepada umat manusia merupakan kuncinya. Allah SWT telah menjanjikan bahwa Alquran merupakan petunjuk hidup bagi orang-orang yang bertakwa. Untuk membuka selimut misteri alam semesta itu, Sang Khalik memerintahkan manusia agar berpikir.

Berikut ini adalah beberapa ayat Alquran yang membuktikan teori relativitas itu.
“…. Sesungguhnya, sehari di sisi Tuhanmu seperti seribu tahun dari tahun-tahun yang kamu hitung.” (QS Alhajj: 47).

“Dia mengatur urusan langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik kepada-Nya dalam satu hari yang kadarnya (lamanya) adalah seribu tahun menurut perhitunganmu.” (QS Assajdah: 5).

“Yang datang dari Allah, yang mempunyai tempat-tempat naik. Malaikatmalaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Tuhan dalam sehari yang kadarnya lima puluh ribu tahun.” (QS 70: 3-4).

“Dan, kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sangka dia tetap di tempatnya. Padahal, ia berjalan sebagaimana jalannya awan. (Begitulah) perbuatan Allah yang membuat dengan kokoh tiap-tiap sesuatu. Sesungguhnya, Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS Annaml: 88).

“Allah bertanya, ‘Berapa tahunkah lamanya kamu tinggal di bumi?’ Mereka menjawab, ‘Kami tinggal (di bumi) sehari atau setengah hari. Maka, tanyakanlah kepada orang-orang yang menghitung.’ Allah berfirman, ‘Kamu tidak tinggal (di bumi) melainkan sebentar saja, kalau kamu sesungguhnya mengetahui’.” (QS 23: 122-114).

Saudi Arabia, 13 Juni 2010, 19.46